Teori Keheningan (Spiral of Silence Theory)

Teori Keheningan (Spiral of Silence Theory) adalah teori yang menyatakan bahwa orang cenderung mengurangi partisipasi atau menghindari menyuarakan pendapat mereka ketika mereka merasa bahwa pandangan mereka tidak sejalan dengan mayoritas dalam kelompok sosial atau masyarakat yang mereka hadapi.

Oleh

Yandi Novia

Update on:

Teori Keheningan (Spiral of Silence Theory) adalah teori yang menyatakan bahwa orang cenderung mengurangi partisipasi atau menghindari menyuarakan pendapat mereka ketika mereka merasa bahwa pandangan mereka tidak sejalan dengan mayoritas dalam kelompok sosial atau masyarakat yang mereka hadapi. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh seorang ilmuwan politik Jerman bernama Elisabeth Noelle-Neumann pada tahun 1974.

Menurut Teori Spiral of Silence, individu merasa bahwa ada risiko sosial dalam menyuarakan pendapat yang berbeda dengan pandangan mayoritas. Risiko ini termasuk isolasi sosial, diskriminasi, dan penolakan oleh kelompok sosial atau masyarakat yang mereka hadapi. Karena alasan ini, orang lebih cenderung untuk mengikuti pandangan mayoritas dan mengurangi partisipasi dalam mengungkapkan pendapat mereka.

Teori ini dijelaskan dalam bentuk spiral, di mana individu yang merasa bahwa pandangan mereka tidak populer, merasa semakin terasing dari kelompok sosial atau masyarakat. Hal ini mendorong individu tersebut untuk semakin mengurangi partisipasi mereka dalam menyuarakan pendapat mereka, yang pada akhirnya dapat menguatkan pandangan mayoritas dan menekan pandangan minoritas.

Teori Spiral of Silence memiliki implikasi penting dalam konteks media dan politik, karena menyatakan bahwa media massa dan pengaruh sosial dapat memengaruhi persepsi individu tentang pandangan mayoritas dan minoritas dalam masyarakat. Teori ini juga menunjukkan bahwa media massa dapat memainkan peran penting dalam membentuk pandangan publik tentang isu-isu sosial dan politik.

Namun, Teori Spiral of Silence juga mendapat kritik karena dianggap terlalu deterministik dan tidak mempertimbangkan bahwa individu dapat memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk mengevaluasi pandangan mayoritas dan minoritas secara kritis. Selain itu, teori ini juga tidak mempertimbangkan perbedaan individual dalam respons terhadap tekanan sosial dan kemampuan untuk mengungkapkan pendapat.

Yandi Novia

Pada tahun 2010 saya memulai membangun sebuah blog. Belajar menulis, mengedit, dan belajar hal-hal baru seperti desain grafis dengan corel draw, membangun web hingga menerima jasa pembuatan web, video editing, dan content creator. Saya juga pekerja freelance pada bidang komunikasi dan mobilisasi sosial. Mari Berteman!

Pos Terkait:

Tinggalkan komentar: