Teori Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance Theory)

Disonansi kognitif dalam ilmu komunikasi adalah perasaan yang dimiliki orang ketika mereka menemukan diri mereka sendiri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, atau mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang.

Oleh

Yandi Novia

Update on:

Teori Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance Theory) adalah teori psikologi sosial yang dikemukakan oleh Leon Festinger pada tahun 1957. Teori ini mengajukan bahwa ketika individu mengalami ketidaksesuaian antara keyakinan, sikap, atau perilaku mereka, maka mereka akan merasakan ketidaknyamanan atau disonansi kognitif. Hal ini mendorong individu untuk mengurangi disonansi tersebut dengan cara mengubah keyakinan, sikap, atau perilaku mereka.

Disonansi kognitif terjadi ketika individu memiliki dua pikiran atau keyakinan yang tidak konsisten atau bertentangan satu sama lain. Misalnya, seseorang mungkin percaya bahwa merokok sangat berbahaya bagi kesehatan, tetapi pada saat yang sama ia terus merokok. Dalam situasi ini, individu akan mengalami disonansi kognitif dan merasa tidak nyaman.

Menurut teori ini, individu akan mencari cara untuk mengurangi disonansi kognitif dengan cara mengubah salah satu elemen yang tidak konsisten dengan yang lain. Individu dapat mengubah keyakinan atau pandangan mereka, mengubah perilaku, atau mencari informasi baru yang mendukung keyakinan atau perilaku mereka.

Teori ini memiliki aplikasi dalam berbagai konteks, seperti dalam mengubah perilaku individu terhadap masalah sosial seperti kesehatan, lingkungan, atau politik. Misalnya, dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan, individu mungkin merasa tidak nyaman ketika mereka menyadari bahwa perilaku mereka merusak lingkungan. Oleh karena itu, upaya perubahan perilaku dapat dilakukan dengan mengurangi disonansi kognitif melalui pemberian informasi yang lebih banyak tentang manfaat dari perilaku yang lebih baik bagi lingkungan.

Namun, teori ini juga memiliki keterbatasan, seperti tidak memperhitungkan peran emosi dalam pengambilan keputusan atau dalam mengubah perilaku. Selain itu, teori ini cenderung mengabaikan faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi perilaku dan keyakinan individu.

Yandi Novia

Pada tahun 2010 saya memulai membangun sebuah blog. Belajar menulis, mengedit, dan belajar hal-hal baru seperti desain grafis dengan corel draw, membangun web hingga menerima jasa pembuatan web, video editing, dan content creator. Saya juga pekerja freelance pada bidang komunikasi dan mobilisasi sosial. Mari Berteman!

Pos Terkait:

Tinggalkan komentar: