Jihad dan Rekayasa Islamofobia

Ketika pengaruh islamofobia menjadi besar, maka masyarakat cenderung memilih kembali pada ikatan primordialnya. Rasa aman dan nyaman hanya akan didapat ketika orang satu identitas dengannya.

2 mins read

Oleh : Yandi Novia*

Juni 2019, Kalimantan Tengah dihebohkan dengan adanya penangkapan terduga teroris di beberapa tempat berbeda oleh Densus 88 dan Polda Kalteng. Terduga teroris ini merupakan kelompok Uzla pimpinan Abu Hamzah jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD).

Makna jihad bagi JAD memang disalahartikan. Padahal, jika kembali pada jihad sesungguhnya, menurut Direktur Jendral Bimas Islam Kemenag, Muhammad Amin, sejatinya berdekatan dengan upaya untuk menuntaskan kemiskinan atau merebut kembali harta yang seharusnya menjadi haknya. Dan tidak dibenarkan sama sekali melakukan peperangan di negara damai.

Abdel-Hady pada acara International Conference On Muslim and Islam 21st Century: Image and Reality” di Kuala Lumpur, Malaysia, menyebutkan bahwa islamofobia tidak dapat dipisahkan dari problem prasangka terhadap orang muslim dan orang yang dipersepsi sebagai muslim. Prasangka anti-muslim didasarkan pada sebuah klaim bahwa Islam adalah agama “inferior” dan merupakan ancaman tehadap nilai-nilai yang dominan pada sebuah masyarakat.

Selama beberapa tahun terakhir, Kalimantan Tengah memang tidak pernah dihantam isu adanya gerakan terorisme. Walaupun demikian, aksi dan gerakan pencegahan terhadap gerakan terorisme dan radikalisme sangat masif dilakukan oleh semua elemen masyarakat, terutama aparat kepolisian. Kondisi aman dan kondusif ini yang mungkin kemudian ingin dimanfaatkan oleh sekelompok teroris untuk merancang gerakannya.

Propaganda-propaganda gerakan terorisme memang harus sedini mungkin diantisipasi, terutama maraknya propaganda yang terjadi di media sosial.

Perlu diketahui bahwa salah satu terduga teroris dari kelompok jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di Kota Palangka Raya mengenal kelompok dan ajarannya melalui media sosial. Otaknya kemudian dicuci, perilakunya berubah menjadi perilaku yang ekstrem terhadap pandangan agama, seperti mudah mengafirkan sesama Islam dan orang lain yang berbeda pemahaman dengannya.

Kemudian, dari segi sosial, pribadinya lebih suka menyendiri dan tidak mau bergaul dengan orang lain selain kelompoknya.

Baca selengkapnya Jihad dan Rekayasa Islamofobia

Artikel ini telah terbit di qureta.com pada tanggal 7/7/2019.

Yandi Novia

Pada tahun 2010 saya memulai membangun sebuah blog. Belajar menulis, mengedit, dan belajar hal-hal baru seperti desain grafis dengan corel draw, membangun web hingga menerima jasa pembuatan web, video editing, dan content creator. Saya juga pekerja freelance pada bidang komunikasi dan mobilisasi sosial. Mari Berteman!

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.