Arogansi Komunikasi

Mengatasi arogansi komunikasi bukanlah proses yang mudah, tetapi dengan kesadaran diri dan kemauan untuk berubah, kita dapat meningkatkan cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Melalui komunikasi yang lebih empatik, menghargai, dan terbuka, kita dapat membangun hubungan yang lebih sehat, memecahkan konflik dengan lebih baik, dan tumbuh secara pribadi dan profesional.

Oleh

Yandi Novia

Update on:

gambar dari pixabay

Sepertinya saya tipe yang “arogan” dalam berkomunikasi (dalam beberapa situasi dan kondisi tertentu). Masih mengedepankan hawa nafsu. Semua yang ingin saya sampaikan dimengerti dan jawabannya secara teknis seperti yang seharusnya. Ini celaka. Sangat celaka. Artinya, orang harus memahami bagaimana tipe komunikasi saya dan saya tidak seharusnya mengerti mereka.

Pengalaman Pribadi ini saat melakukan komunikasi dengan pekerja. Setelah chatting melalui pesan whatsapp, saya merasa ada yang salah dengan komunikasi saya, sehingga muncullah istilah untuk mendefinisikan komunikasi saya saat itu dengan istilah arogansi komunikasi. Ada penyesalan sampai saat ini, beruntung masih ada waktu untuk memperbaikinya.

***

Komunikasi adalah elemen vital dalam kehidupan sehari-hari kita. Melalui komunikasi, kita dapat menyampaikan pesan, membangun hubungan, dan memecahkan masalah. Namun, dalam beberapa situasi, kita mungkin mengalami arogansi komunikasi—sikap atau perilaku yang merugikan dalam berinteraksi dengan orang lain. Arogansi komunikasi dapat merusak hubungan, menyebabkan konflik, dan menghambat perkembangan pribadi dan profesional.

Arogansi komunikasi dapat muncul dalam berbagai bentuk. Beberapa ciri umum dari arogansi komunikasi seperti:

Menguasai Pembicaraan

Seseorang yang arogan dalam komunikasi cenderung mendominasi pembicaraan. Mereka merasa bahwa pendapat dan pengalaman mereka lebih penting daripada orang lain, sehingga mereka cenderung mengabaikan pandangan dan pendapat orang lain.

Meremehkan Orang Lain

Arogansi komunikasi sering kali termanifestasi dalam sikap meremehkan orang lain. Individu yang arogan mungkin mengejek atau mengkritik ide, pendapat, atau kemampuan orang lain dengan cara yang tidak sopan atau tidak membangun.

Kurang Empati

Orang yang arogan sering kali kekurangan empati terhadap orang lain. Mereka tidak mampu atau tidak mau memahami perasaan, kebutuhan, atau perspektif orang lain.

Tidak Mendengarkan dengan Baik

Arogansi komunikasi seringkali terlihat dalam perilaku yang tidak mendengarkan dengan baik. Orang yang arogan mungkin sibuk dengan diri sendiri, tidak memberikan perhatian yang cukup pada orang lain, atau bahkan mengabaikan pandangan atau opini yang berbeda.

Sekarang, mari kita lihat beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengatasi pola komunikasi yang merugikan ini:

Kesadaran Diri

Langkah pertama untuk mengatasi arogansi komunikasi adalah menjadi sadar akan perilaku dan pola komunikasi kita sendiri. Perhatikan bagaimana kita berbicara, mendengarkan, dan berinteraksi dengan orang lain. Apakah kita cenderung dominan? Apakah kita sering meremehkan orang lain? Dengan mengenali pola komunikasi yang merugikan, kita dapat mulai mengubah perilaku.

Praktik Empati

Latih kemampuan empati kita dengan memahami dan menghargai perasaan, kebutuhan, dan perspektif orang lain. Berusaha untuk melihat situasi dari sudut pandang mereka dan berempati dengan apa yang mereka rasakan. Ini akan membantu kita membangun hubungan yang lebih baik dan memperbaiki cara kita berkomunikasi dengan orang lain.

Dengarkan Aktif

Penting untuk mendengarkan dengan aktif saat berkomunikasi dengan orang lain. Berikan perhatian penuh kepada pembicara, bukan hanya fisik tetapi juga emosional. Dengarkan dengan sungguh-sungguh, dan berikan umpan balik yang memperlihatkan pemahaman dan ketertarikan kita terhadap apa yang mereka katakan.

Hindari Menghakimi

Jaga sikap dan bahasa tubuh kita agar tidak terkesan menghakimi terhadap orang lain. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki pengalaman, pendapat, dan keahlian yang berbeda. Buka pikiran kita untuk menerima pandangan yang berbeda dan jangan menganggap diri kita lebih unggul dari orang lain.

Buka Komunikasi yang Saling Menguntungkan

Jika kita menyadari bahwa telah bersikap arogan atau menyakiti perasaan orang lain, jangan takut untuk meminta maaf dan membuka komunikasi yang sehat. Sampaikan niat kita untuk memperbaiki pola komunikasi kita dan bertanya kepada orang lain bagaimana kita dapat lebih baik dalam berinteraksi dengan mereka.

Mengatasi arogansi komunikasi bukanlah proses yang mudah, tetapi dengan kesadaran diri dan kemauan untuk berubah, kita dapat meningkatkan cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Melalui komunikasi yang lebih empatik, menghargai, dan terbuka, kita dapat membangun hubungan yang lebih sehat, memecahkan konflik dengan lebih baik, dan tumbuh secara pribadi dan profesional.

Yandi Novia

Pada tahun 2010 saya memulai membangun sebuah blog. Belajar menulis, mengedit, dan belajar hal-hal baru seperti desain grafis dengan corel draw, membangun web hingga menerima jasa pembuatan web, video editing, dan content creator. Saya juga pekerja freelance pada bidang komunikasi dan mobilisasi sosial. Mari Berteman!

Pos Terkait:

Tinggalkan komentar: