Belajar dari Buya Hamka saat difitnah

Jatuh air mata saya saat sampai pada adegan Buya Hamka dihadapkan dengan fitnah. Betapa kecilnya fitnah yang menimpa kita. Sungguh, kita harus belajar.

Oleh

Yandi Novia

Update on:

Fitnah mungkin tidak pernah lepas dari kehidupan kita. Bisa berasal dari orang terdekat, teman, sahabat, dan lawan. Bisa jadi juga dari teman kerja, tetangga, orang yang tidak dikenal, orang yang kenal kita, orang sok kenal, bahkan fitnah dari makhluk astral :). Dan fitnah tidak memandang status sosial, bisa dari orang pintar, orang bodoh, tukang bakso, tukang sol sepatu, dosen, guru, mahasiswa, pengusaha, politikus, orang sok hebat, orang sok pintar, bahkan orang beragama. Jadi semua orang, ada potensi untuk melakukan fitnah dan difitnah.

Apa itu fitnah?

Dalam konteks teori komunikasi, fitnah merupakan tindakan menyebarkan informasi yang salah atau menyesatkan tentang seseorang atau kelompok orang. Fitnah dilakukan dengan tujuan untuk merusak reputasi, mempengaruhi opini publik/ individu seseorang, atau bahkan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Kejam bukan!!!

Setidaknya ada tiga teori yang bisa menjelaskan tentang fitnah. [1] Teori Persuasi : fitnah dapat digunakan sebagai salah satu strategi persuasi untuk mempengaruhi opini publik/ individu. Penyebaran fitnah akan mengubah dan mempengaruhi pandangan orang terhadap orang lain. [2] Teori Efek Media : hal ini berkaitan dengan peran media dalam menyebarkan fitnah, sehingga mempengaruhi persepsi dan sikap orang terhadap individu atau kelompok. [3] Teori Kostruksi Sosial : teori ini menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk oleh proses interaksi sosial. Fitnah dapat mempengaruhi cara orang melihat dan memahami realitas sosial, sehingga dapat mempengaruhi perilaku dan tindakan mereka terhadap seseorang atau kelompok orang yang menjadi korban fitnah.

Konstruksi terjadinya fitnah secara sederhana bisa dijelaskan sebagai berikut :

Orang – Informasi Yang Salah – Disebarkan – ke Orang – Dan diterima

Informasi yang salah bisa saja terjadi karena kabar/ pembicaraan dari orang ke orang yang tidak utuh, cenderung melakukan penilaian sepihak (saya bahasakan opini liar), tanpa ada proses klarifikasi. Dalam hal ini, juga terjadi dari berbagai aspek penyampaian informasi baik melalui media, maupun secara langsung (orang ke orang), kalau telepati sih gak mungkin. Apalagi melalui merpati. Indera yang paling terlibat adalah mata dan telinga, diproses oleh otak yang blur dan kelam saat menerima informasi.

Begitu mungkin konstruksi terjadinya fitnah.

Bagaimana jika difitnah? Apa yang harus dilakukan?

Saya pastikan semua orang pernah difitnah. Dalam catatan perjalanan hidup saya, setidaknya ada 3 (tiga) kategori fitnah yang menimpa saya, dan masih saya ingat. Pertama, dulu, kedua, soal pilihan politik, dan ketiga saat ini. Biarkan jadi ranah privasi, yang tidak perlu saya jelaskan. Bahkan jika fitnah yang pernah terjadi pada diri anda, biarkan itu jadi ranah privasi, tidak perlu di umbar di story whatsapp atau instagram, status facebook, bahkan masuk dalam curriculum vitae.

Sebelum menonton film Buya Hamka Vol. 1. Saya telah memilih jalan dan gaya berpikir yang cukup sederhana. Hal ini memang dipengaruhi oleh beberapa pandangan-pandangan. Berikut saya jelaskan :

Pertama, perkataan Ali bin Abi Thalib.

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu.

[ALi bin Abi Thalib]

Perkataan Ali bin Abi Thalib ini merefleksikan pemikiran dan pandangannya tentang kebijaksanaan dan etika dalam berkomunikasi serta menjalin hubungan sosial.

Secara substansi, kalimat ini mengandung pesan bahwa menjelaskan tentang diri sendiri kepada orang lain tidak selalu diperlukan atau penting, terutama jika tujuannya hanya untuk memperoleh pengakuan atau persetujuan dari orang lain. Orang yang menyukaimu akan menerimamu apa adanya, tanpa perlu kamu menjelaskan dirimu secara detail. Sedangkan, orang yang membencimu mungkin tidak akan percaya apa yang kamu katakan tentang dirimu, bahkan jika kamu memberikan penjelasan yang jelas dan akurat. Oleh karena itu, lebih baik fokus pada tindakan yang dapat membangun hubungan positif dengan orang lain daripada berusaha meyakinkan mereka tentang dirimu dengan kata-kata.

Sederhanya, kita tidak perlu repot-repot menjelaskan kepada orang yang tidak percaya dengan kita. Kecuali orang tersebut sedang ingin melakukan klarifikasi. Itupun menurut saya tidak perlu menjelaskan terlalu detail, karena kembali lagi yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membenci mu tidak percaya itu.

Dan, perkataan Ali bin Abi Thalib ini masih sangat relevan dengan keadaan sekarang, buktinya teman-teman dekat kita, saudara kita, tetap percaya dengan kita dan tidak percaya dengan yang orang lain yang memfitnah kita. Dari sini kita bisa melihat pribadi seseorang. Jadi bertindaklah selow….

Kedua, Qur’an Surah Al Hujarat Ayat 6

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

[QS. Al Hujurat: 6]

Sudah jelas, bahwa mereka yang memfitnah masuk dalam kategori orang fasik. Fasik secara etimologi berarti “keluar dari sesuatu”. Sedangkan secara terminologi berarti seseorang yang menyaksikan, tetapi tidak meyakini dan melaksanakannya. Secara bahasa sederhana fasik diartikan “yang melakukan pelanggaran atau yang durhaka”.

Jadi, jika dikembalikan kepada Al Qur’an, sudah sangat jelas ada peringatan kepada kita. Jangan percaya mereka. Bahkan sudah diberikan tuntunan, yaitu lakukan tabayyun atau klarifikasi.

Sehingga, bagi kita yang difitnah, selow saja, artinya baik yang orang fasik tadi ataupun orang yang menerima berita tadi sudah diberikan tuntunan dan peringatan oleh Allah SWT sejak ribuan tahun yang lalu. Yaaa… mungkin mereka tidak sempat membacanya saja. Do’akan mudahan mereka menerima hidayah.

Belajar dari Buya Hamka

Keteguhan dan kesabaran kita saat mendapatkan fitnah akan belajar lagi kepada Buya Hamka, bahkan lebih belajar lagi. Saat mendapatkan fitnah dari para koleganya, orang-orang disekitarnya. Bagaimana respon Buya Hamka?

Tidak pernah lepas dia beristighfar, memohon ampun kepada Allah, dikuatkan lagi oleh sosok istrinya. Tidak ia jelaskan kepada orang lain, dia simpan dalam hatinya, bagaimana perjuangannya, apa yang sedang ia lakukan, mungkin dalam hatinya menangis, hanya air matanya yang tidak jatuh, ia tetap kuat, karena jalannya memang benar.

Apa kata Buya Hamka saat beberapa orang memfitnahnya, bahkan didepan matanya, didengar oleh sepasang telinganya. Masih saya ingat kata-katanya walaupun masih kurang utuh.

Yang kalian katakan itu fitnah. Juga ada benar dan ada salahnya. Saya minta maaf.

Tidak Buya rincikan apa saja yang fitnah, apa yang benar dan apa yang salah. Iya hanya merespon dengan memukul meja dengan keras, menghentikan debat saat itu, seraya menundukkan kepala, dan berucap ‘saya minta maaf’.

Jatuh air mata saya saat sampai pada adegan Buya Hamka dihadapkan dengan fitnah. Betapa kecilnya fitnah yang menimpa kita. Sungguh, kita harus belajar. Walaupun kita tidak setara dengan beliau, setidaknya ada hal yang bisa kita ikuti dan pelajari dari perjuangan beliau.

Jika kalian mempunyai pandangan lain, silakan berbagi…!!!

Yandi Novia

Pada tahun 2010 saya memulai membangun sebuah blog. Belajar menulis, mengedit, dan belajar hal-hal baru seperti desain grafis dengan corel draw, membangun web hingga menerima jasa pembuatan web, video editing, dan content creator. Saya juga pekerja freelance pada bidang komunikasi dan mobilisasi sosial. Mari Berteman!

Pos Terkait:

Tinggalkan komentar: