Algoritma media sosial mendikte

1 min read

Algoritma media sosial mendikte apa yang harus kita lihat, apa yang harus kita inginkan, apa yang harus kita lakukan, dengan siapa kita berkomunikasi, sehingga kebanyakan orang yang berada di dunia maya atau sebut saja dimensi lain dari kehidupan nyata adalah mereka yang memiliki pribadi ‘lebih’ tidak mirip dari aslinya. Artinya dia berada pada dirinya yang bersifat pura-pura.

Seharusnya, imaji budaya, sosial, relasional, dan individu atas konsep diri harus dijaga. Memang, personal identitas menjadi sesuatu yang bisa dinamis dan bisa dibentuk. Algoritma media sosial memiliki peran cukup besar dalam prosesnya. Cukup banyak pengaruh negatif yang bisa menyerang kita, jika hal positif tidak kita munculkan dan tidak kita arahkan untuk diri kita di media sosial. Ingat, kita sebagai pengguna. Algoritma adalah yang memiliki kita. Siapa yang membuat? Ini adalah visi dan misi perusahaan, biasanya jadi rahasia mereka. Tiktok masih merajainya.

Konsep public self atau social self, adalah salah satu cara peneliti untuk membedakan identitas sosial dari kehidupan pribadi. Dalam hal interaksi, kita akan memilih menjadi seperti apa, dan karakter-karakter apa yang akan dimunculkan untuk menjalani suatu kondisi. Jadi, jangan heran ada orang yang biasanya hanya sibuk main catur atau gaplek di pos ronda, namun kritis dan proaktif ketika berada di media sosial.

Contoh lain. Tenaga pengajar yang biasanya rapi tiba-tiba menampilkan karakter lain di media sosial. Orang kaya yang senang berbagi hal sederhana, dan sebaliknya orang miskin menampilkan berbagai kemewahan. Menagih hutangpun sekarang bisa melalui media sosial (ada beberapa pengguna yang melakukannya). Ada orang yang piawai dalam mengolah kata di media sosial, tapi biasa saja ketika berkomunikasi di media sosial. Kita tidak bisa menghakimi seseorang dalam hal memilih karakter, dan cara berinteraksi.

Ohh yaa.. sebenarnya saya hanya ingin menjelaskan bagaimana media sosial baru “Bluesky” yang dibuat oleh mantan CEO Twitter Jack Dorsey memilih salah satu prinsip yang mungkin kita semua menginginkan hal tersebut. Yakni, dengan menggunakan Authenticated Transfer Protocol (AT Protocol) memungkinkan pengguna memiliki kontrol lebih besar atas pengalaman mereka. AT Protocol menyertakan mode algoritma terbuka. Kita tunggu.

Pada tahun 2010 saya memulai membangun sebuah blog. Belajar menulis, mengedit, dan belajar hal-hal baru seperti desain grafis dengan corel draw, membangun web hingga menerima jasa pembuatan web, video editing, dan content creator. Saya juga pekerja freelance pada bidang komunikasi dan mobilisasi sosial. Mari Berteman!

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Baru kali ini agak canggung jadi moderator

Next Story

KNPI Kalteng dan Dialog ‘Solution’

Latest from Blog