Nocturno

1 min read

Tak apa,
Tuangkan aku dangdut
Ke dadaku yang kelam
Biar sepi dan takut
Membenam
Ke dasar terjauh
Yang bukan 
Tujuan kita
Untuk ditempuh.

Ini bukan negeri
Tempat lahir Neruda
Lelaki yang menyanyikan
palma, ikan, roti dan rakyat.
Ini pun bukan negerinya
Rumi yang selalu dahaga
Di padang-padang ma’rifat.

Ini Indonesia;
Irama Hindi, Melayu, Eropa, Arab bersetubuh di antara warna coklat
Kertas kertas musik 
Kita. Yang haus akan cinta dan damai.

Waktu mengurai malam
Matamu terlempar pada kejauhan.
Ku tulis ini saat sepi
dan pucuk-pucuk bambu
mendesahkan namamu, Cinta.

Di tembok kusam  kujumpai tulisan :
“I walk alone on the
pavement think about goverment”
Ku hela nafasku
Dan betapa ingin mencintai negeri ini
sepenuh hati.

Sebagaimana kulihat
Seorang pemuda pemabuk yang melarutkan dirinya dengan gitar.

November 1, 2016
05:13 pm

Pada tahun 2010 saya memulai membangun sebuah blog. Belajar menulis, mengedit, dan belajar hal-hal baru seperti desain grafis dengan corel draw, membangun web hingga menerima jasa pembuatan web, video editing, dan content creator. Saya juga pekerja freelance pada bidang komunikasi dan mobilisasi sosial. Mari Berteman!

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Kala batas diakhiri

Next Story

De Javu

Latest from Blog