Suatu Hari

Asap dan Gubuk Cangkir Kopi

Saya lupa nama kakeknya, dan bahkan saya lupa nama tempatnya. Pokoknya di daerah pantai, Kota Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Foto ini saya abadikan, agar ingat bagaimana kegigihan seorang kakek tua, melawan hidup, melawan asap. Tanpa banyak bicara. Dia bakar pesanan ikan kami. Raut wajahnya dihiasi senyum dan penuh harapan. Saya senyum melihatnya.

Jujur, saya tidak melihat beban pada wajahnya. Ketika saya meminta foto, sang kakek sedang membakar terasi. Aromanya sudah bisa terbayangkan. “Kakek bakar apa?”, tanya saya. “Ini terasi nak, asli tanpa pengawet”, jelas sang kakek. “Saya ingin berfoto dengan kakek, bolehkah?”, tanya saya kembali. “Boleh nak”, jawab kakek singkat.

Gubuk Cangkir Kopi

Saya sebut gubuk, karena memang begitu adanya. Tempat persinggahan sebelum menyeberang ke Gili Trawangan, Lombok, NTB. Nenek tua yang menyuguhkan kopi juga tidak banyak bicara. “Ayo, mau pesan kopi apa?’, tanya Nenek dengan senyum bahagia menyambut kami yang datang. Tidak banyak pilihan kopi, karena memang dagangan sang Nenek juga sedikit.

Secangkir kopi susu yang disuguhkan nenek siang itu, memberikan kehangatan. Cuaca memang sedang hujan kala itu.

Gubuk Kopi itu beralaskan tanah. Makanya saya sebut gubuk.

Sama halnya dengan sang kakek. Nenek juga masih semangat. Tidak ada letih dalam rautan wajahnya. Dia hanya berpikir bagaimana menghadapi kehidupan setiap harinya.

Saya coba gambarkan, dari dua sosok ini.

Mereka tidak berpikir untuk keluar dari zona nyamannya. Karena fokus mereka adalah menjalani rutinitas untuk bertahan. Tidak ada rasa lelah, bahkan tidak tergambarkan bahwa mereka sedang bersedih. Lantas, mengapa kita yang masih muda terlalu membuang energi untuk hal-hal yang tidak berguna?

Catatan perjalanan Lombok, NTB.

Tag:

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar: