Jangan marahi mereka depan umum

Saya mengambil hikmah dari kejadian itu. Terutama untuk pribadi. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang selalu berkata bijaksana.

BAGIKAN DI

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Kemaren, saya bersama istri dan anak belanja di salah satu “ritel” terbesar, tersohor, dan tereksis (karena berada di sudut manapun). Belanja kebutuhan popok anak.

Suasana seperti biasa. Walaupun sore itu hujan sedang menanti untuk turun. Saya sambil menggendong anak, istri memilih popok yang akan dibeli, sesekali saya liat dia bertanya kepada kasir, entahlah bertanya apa. Mungkin menanyakan diskon.

Awalnya, saya bermain dengan anak di luar. Tidak ingin masuk.

Perhatian saya tertuju pada beberapa karyawan yang sedang di briefing oleh petinggi mereka. Entahlah apa sebutannya. Karena kelihatan jelas dari cara dia berdiri dengan sikap kepala tegak, mata menyorot tajam, tidak senyum, masker tidak terpakai dengan benar, menunjukan ekspresi marah dan sedang mengomel.

Saat saya masuk, briefing sudah selesai. Beberapa karyawan sudah kembali pada posisi kerja masing-masing.

Ada satu karyawan yang masih di marahin. Yaa… bukan di briefing, tapi di marahin. Hanya berpindah tempat.

Jarak sekitar 10 meter, masih terdengar suara si pimpinan memarahi karyawannya. Gaya bahasa “lu” “gue”. Sangat tidak nyaman terdengar.

Si karyawan tertunduk lesu. Sedangkan gaya si pimpinan masih seperti awal.

Saat itu, mungkin ada sekitar 10 orang lebih sedang belanja.

Sesekali mereka menengok cuek ke arah pimpinan yang sedang memarahi karyawannya. Bukan hanya saya yang mungkin terganggu. Tapi mereka juga.

Jangan memarahi orang depan umum

Al-fudhail bin Iyad berkata, “Orang Mukmin menutupi (aib saudaranya) dan memberi nasihat, sedangkan orang jahat menghancurkan dan menghina.” (Jami’ul ulum wa al-hikam).

Para ulama salaf mengatakan, “Barangsiapa mengingatkan saudaranya, lalu ia melakukannya hanya antara dia dengan saudaranya itu, maka itulah nasihat. Adapun yang menasihatinya di hadapan orang lain, berarti telah mempermalukannya.”

Imam syafi’i berakata, “Barangsiapa menasehati saudaranya dengan sembunyi-sembunyi, berarti ia telah menasehati dan mengindahkannya. Barangsiapa menasehati dengan terang-terangan, berarti ia telah mempermalukan dan memburukkannya. (Shahih Muslim Bisyar An-Nawawi (2/24)).

Saya mengambil hikmah dari kejadian itu. Terutama untuk pribadi. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang selalu berkata bijaksana.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *