Trisula Muhammadiyah Abad ke-2: Reposisi IMM Kalimantan Tengah Dalam Praksis Gerakan

Sebenarnya narasi yang saya bangun ini dalam rangka memberikan contoh "wacana dan framing". Karena materi yang diberikan kepada saya untuk mengisi Darul Arqam Madya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kalimantan Tengah (DAM IMM Kalteng) adalah Analisis Media yang memuat 2 (dua) pembahasan, yaitu analisis wacana dan analisis framing, pada 30/03/2021 di Kota Palangka Raya.

BAGIKAN DI

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Sebenarnya narasi yang saya bangun ini dalam rangka memberikan contoh “wacana dan framing”. Karena materi yang diberikan kepada saya untuk mengisi Darul Arqam Madya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kalimantan Tengah (DAM IMM Kalteng) adalah Analisis Media yang memuat 2 (dua) pembahasan, yaitu analisis wacana dan analisis framing, pada 30/03/2021 di Kota Palangka Raya.

Narasi ini berkaitan dengan tema DAM IMM Kalteng. Judul yang cukup menguras otak untuk diterjemahkan. Sehingga narasi yang saya bangun masih sangat sederhana. Berikut lengkapnya :

Trisula Muhammadiyah Abad ke-2: Reposisi IMM Kalimantan Tengah Dalam Praksis Gerakan.

Oleh : Yandi Novia

Kekuatan terbaik kader IMM adalah terletak pada bagaimana praksis gerakan yang diperankannya. Pilihannya ada tiga. Sebagai pemain, pemandu sorak, atau penonton, lebih kerdil lagi menjadi bendera sebagai objek penanda. IMM Kalimantan Tengah bukan organisasi yang hadir begitu saja tanpa perjalanan panjang, tanpa air mata, dan tanpa tetesan keringat. IMM bukan juga organisasi seperti bayangan, terbentuk karena sinar terhalang oleh suatu objek dan tidak dapat menembus objek tersebut. IMM Kalimantan Tengah sejak berdiri hingga sekarang mengalami dinamika transisi pola pikir, yang dimainkan oleh pemikiran kader-kadernya. Kadang terhempas oleh ombak besar, tenggelam, bertahan pada arus, kadang asyik mengikuti arus, bahkan pada air tenang saja tidak mampu bergerak. Sehingga, tawaran untuk melakukan “reposisi” menjadi pilihan bijak dan tepat.

Reposisi dimaksud mencoba mengembalikan IMM pada tujuan awal gerakannya sebagai organisasi mahasiswa dengan mengusung tema besar tertulis dalam Al Qur’an surah Al Baqarah 148. Fastabiqul khairat, dalam kalimat sederhana memberi makna dan jalan untuk terus berbuat kebaikan. Meminjam istilah Din Syamsuddin “kader harus mengedepankan watak Fastabiqul Khairat, yaitu memiliki semangat, dan sikap tidak mau atas sesuatu yang tidak baik , serta bisa berkompetisi menjadi pemenang”.

Bersambung. Akan dilengkapi dilain waktu.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *