Maret 2020, saya sudah keliling Kalteng sebar selebaran COVID-19

Memang di awal-awal, ada kepanikan dari masyarakat. Saya selalu menyempatkan waktu diskusi dengan masyarakat bagaimana tanggapan mereka tentang kasus pandemi COVID-19 ini, karena pada saat itu informasi “masih menyeramkan” bagi masyarakat.

2 mins read

BLOGGER KALTENG – Sebelum adanya kasus terkonfirmasi positif di Kota Palangka Raya, saya bersama rekan tim dari Dewan Masjid Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah telah bergerak di 13 Kabupaten/Kota. Namun hanya ada 6 daerah yang kami kunjungi secara langsung, yaitu Pulang Pisau, Kapuas, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Kota Palangka Raya.

Gerakan yang kami lakukan membagikan selebaran poster tentang cara pencegahan Corona Virus Desease 2019 (COVID-19) dan juga masker secara gratis, dengan target masjid, dan masyarakat luas terutama di daerah padat.

Memang di awal-awal, ada kepanikan dari masyarakat. Saya selalu menyempatkan waktu diskusi dengan masyarakat bagaimana tanggapan mereka tentang kasus pandemi COVID-19 ini, karena pada saat itu informasi “masih menyeramkan” bagi masyarakat.

“Jangan panik, pandemi COVID-19 ini bisa kita cegah penularannya dengan berbagai cara”, ungkap saya. Sembari saya serahkan selebaran poster yang berisi edukasi tentang bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan masyarakat.

Saya masih ingat, saat pulang dari perjalanan Panjang sampai di Kabupaten Seruyan. Kami mendengar kabar ada 1 kasus terkonfirmasi positif di Kota Palangka Raya, dengan Riwayat perjalanan ke luar negeri. Dan kondisi Kota Palangka Raya pasca kasus itu mulai berbeda. Sudah banyak orang berjemur di pagi hari, handsanitizer mulai langka dan mahal (harga biasanya Rp 12.000, saya sempat beli dengan harga Rp 72.000), begitu juga dengan masker sudah mulai langka dan mahal.

Kadang saya berpikir, seandainya rasa takut yang awal-awal itu masih dirasakan saat ini, mungkin saja pandemi COVID-19 ini akan cepat dimusnahkan. Kenapa? Karena orang-orang akan takut berkerumun, masker selalu dipakai saat keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain, orang-orang akan selalu mencuci tangan, dan mungkin juga tidak ada atau sedikit orang-orang yang nongkrong di café saat malam hari.

Pada akhirnya, semua perlu menumbuhkan kesadaran, bahwa untuk menyelesaikan kasus penyebaran COVID-19 ini adalah tanggung jawab bersama.

Yandi Novia

Pada tahun 2010 saya memulai membangun sebuah blog. Belajar menulis, mengedit, dan belajar hal-hal baru seperti desain grafis dengan corel draw, membangun web hingga menerima jasa pembuatan web, video editing, dan content creator. Saya juga pekerja freelance pada bidang komunikasi dan mobilisasi sosial. Mari Berteman!

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.