Materi Kuliah

Materi Genre Keterampilan Hidup (Life Skills) lanjutan

Gambar ilustrasi dari canva
Materi ini lanjutan dari materi yang sebelumnya anda lihat… Mohon maaf, ketikan tidak beraturan. Silakan di edit.

Keterampilan Emosional

  1. Keterampilan bersikap tegas (asertif)
    Asertif adalah sebuah sikap atau perilaku untuk mengekspresikan dirisecara tegas kepada pihak lain tanpa harus menyakiti pihak lain ataupun merendahkan diri di hadapan pihak lain. Sikap tegas membuat seseorang mampu menyatakan pikiran, perasaan dan nilai-nilai mengenai sesuatu secara terbuka dan langsung, dengan tetap menghormati perasaan dan nilai-nilai pihak lain. Sikap asertif untuk kelompok remaja sangat diperlukan dalam menghadapi tekanan remaja sebaya. Tekanan itu berkaitan dengan ajakan untuk terlibat ke dalam risiko Triad KRR. Berikut ini adalah cara asertif untuk menolak ajakan tersebut, diantaranya :
TeknikContoh
Berkata ”TIDAK””Tidak” atau ”Tidak, terima kasih”
Katakan terus terang, apa
adanya
”Tidak, terima kasih, saya tidak
merokok” atau ”tidak mau
mencobanya”
Beri alasan”Tidak, terima kasih. Saya tergesa-gesanih, saya harus pergi”
Kesan Gagah”Tidak sekarang. Mungkin lain kali”
Mengubah topik pembicaraanKatakan ”tidak” dan langsung merubaharah pembicaraan : ”tidak, terimakasih. Kamu liat pertandingan
semalam?”
Mengulang kata TidakUlangi kata ”tidak” berulang-ulang ataubervariasi :
”tidak”
”tidak, terima kasih”
”tidak, saya tidak tertarik”
Pergi / berlaluKatakan ”tidak” dan langsung pergi
Angkat bahuAcuhkan atau tidak mempedulikan
Menghindari situasiJauhkan diri dari setiap situasi dimana
ada kemungkinan kamu mendapat
tekanan dari kelompok untuk merokok
atau menggunakan narkoba
  1. Keterampilan berkomunikasi dengan orang lain (komunikasi interpersonal)
    Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pikiran dan perasaan melalui bahasa, pembicaraan, pendengaran, gerakan tubuh atau ungkapan emosi oleh seseorang kepada orang lain disekitarnya.

a) Keterampilan dalam komunikasi efektif
Komunikasi yang efektif dapat terjadi apabila menggunakan keterampilan berikut ini:


1) Kemampuan menerima dan memahami (Attending Skills):
· Pemberian perhatian fisik kepada lawan bicara. Misalnya dengan memperhatikan gerakan tubuhnya, menjaga kontak mata, tunjukkan dengan ekspresi wajah atau gerakan tubuh lain sebagai tanda tertarik terhadap apa yang diucapkan oleh lawan bicara.
· Selama pembicaraan pandangan muka sepenuhnya diarahkan kepada lawan komunikasi.


2) Kemampuan mengikuti alur cerita (Following Skills):
Kemampuan mengikuti alur cerita mempunyai ciri-cirisebagai berikut:
· Tidak memutuskan pembicaraan dan mengalihkan perhatian orang yang sedang berbicara.
· Menggunakan sedikit dorongan dan respon sederhana yang dapat memacu pembicara untuk menyampaikan ceritanya.
· Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan, yang dapat menambah informasi dan tidak sekedar jawaban “Ya” atau “Tidak”.
· Tidak mengambil peran sebagai penyidik dan mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Jaga suasana agar tetap tenang.


3) Kemampuan melakukan refleksi perasaan (Reflecting Skills):Kemampuan ini mempunyai ciri yaitumengungkapkan kepada orang lain tentang perasaan orang tersebut sesuai dengan yang kita pahami, seperti contoh berikut ini :
· “Anda benar-benar gembira tentang proyek ini”
· “Nampaknya anda marah”
· “Sepertinya anda merasa tidak bersalah”


4) Kemampuan melakukan pengulangan makna (Paraphrasing Skills):
Kemampuan ini mempunyai ciri yaitumenyatakan kembali pesan yang disampaikan pembicara dengan menggunakan kata-kata lain, dengan tujuan untuk mengetahui apakah yang kita dengar adalah benar, seperti ungkapan di bawah ini :
· “Jika saya tidak salah mengerti,………”
· “Jadi menurut anda bahwa ……………”
· “Sepertinya anda mengatakan bahwa ………”


5) Kemampuan melakukan pengulangan makna (Focusing Skills): Kemampuan ini mempunyai ciri yaitusopan meminta orang lain untuk bicara lebih fokus pada masalah utamanya, seperti ucapan berikut ini :
· “Saya mengerti bahwa semua masalah ini menjadi perhatian anda, tetapi apakah diantara masalah tersebut ada yang secara khusus bisa kita selesaikan bersama?”
· “Dari semua apa yang anda katakan, masalah mana yang paling anda risaukan?

Apabila komunikasi menyenangkan dan dapat diterima, komunikasi non-verbal berikut ini dapat menjadi pelengkap komunikasi verbal:
· Melakukan kontak mata;
· Menjaga posisi tubuh tetap tegak;
· Berdiri mendekat pada lawan bicara tetapi tetap ada jarak;
· Suara yang ramah, bicara jelas, tidak berbisik dan tidak berteriak.

b) Hambatan dalam komunikasi efektif
Komunikasi yang efektif akan mengalami hambatan apabila salah satu peserta komunikasi melakukan hal-hal sebagai berikut:


1) Menilai (Judging) : yaitu memaksakan nilai yang anda anut pada orang lain dan membentuk solusi untuk masalah mereka. Jika anda menilai, anda tidak mendengar atas apa yang diucapkan orang lain, karena anda menilai penampilan, suara dan kata-kata yang digunakan orang tersebut. Contoh:
· Mengkritik : “Anda tidak paham”
· Mencap : “Itu karena anda malas”
· Mendiagnosis : “Anda tidak sunguh-sungguh dengan masalah ini”
· Memuja untuk memanipulasi : “Dengan sedikit usaha lagi, anda dapat mengerjakan dengan baik”


2) Mengirim solusi: yaitu memotong pembicaraan sebelum pembicara selesai. Hal ini juga akan mendorong ketergantungan orang lain pada kita dalam memecahkan masalah dan menolak adanya kesempatan untuk mempraktikkan pengambilan keputusan. Tipe komunikasi seperti ini akan menunjukkan kepada mereka bahwa perasaan, nilai-nilai dan masalah mereka adalah tidak penting. Contoh:
· Memerintah : “Kamu akan belajar dua jam tiap malam”
· Menakut-nakuti : “Jika kamu tidak melakukan ini,……”
· Moralis : “Kamu harus lakukan ini, ….”
· Pertanyaan berlebih : “kamu akan kemana? Apa yang akan kamu lakukan? Dengan siapa kamu pergi?”
· Mengakhiri kalimat-kalimat yang akan diucapkan pembicara.


3) Mengabaikan perhatian orang lain:Perasaan dan perhatian individu tidak diperhitungkan.
Contoh:
· Menasehati : “Akan baik bagimu jika kamu ….”
· Mengalihkan pembicaraan : “Olahraga apa yang kamu lakukan sekarang?”
· Argumentasi logis : “Satu-satunya jalan untuk meningkatkan nilaimu adalah dengan belajar lebih giat”
· Meyakinkan : “Semua akan selesai”
· Menolak/Tidak setuju : “Ya, tetapi …..”

D. Keterampilan Spiritual

  1. Keterampilan Memahami Kehidupan Spiritual
    Spiritualitas adalah unsur kehidupan manusia yang langsung diberikan dan berasal dari Tuhan. Keterampilan memahami spiritualitas adalah kemampuan memahami bahwa semua kegiatan jasmani, pikiran dan emosi manusia yang digerakan atas dasar suara hati nurani dan diarahkan untuk memperoleh keridhoan Tuhan Penciptanya.
  2. Keterampilan Menyadari Kehidupan Spiritual
    Kemampuan spiritual itu akan terlihat pada perkembangan kesadaran dan pemahaman manusia terhadap diri, orang lain, dan alam, yang berujung pada peningkatan kesadaran dan pemahaman akan kebesaran Penciptanya. Artinya, Spiritualitas muncul pada konteks hubungan manusia dengan dirinya, orang lain, alam dan Penciptanya.
  3. Keterampilan Melaksanakan Kehidupan Spiritual
    Makna umum dari kegiatan spiritual adalah semua kegiatan baik jasmani, pikiran, dan emosi yang dilaksanakan atas dorongan suara hati nurani untuk mendapatkan keridhoan Ilahi. Keterampilan spiritual dalam sembahyang terletak pada kemampuan meresapi makna dari setiap ucapan yang dibaca dalam sembahyang.

B. Keterampilan Kejuruan (Vocational Skills)
Keterampilan kejuruan adalah kemampuan atau keterampilan khusus yang dimiliki oleh remaja dan mahasiswa dalam bidang non akademik, yakni berupa kemampuan remaja dan mahasiswa dalam berwirausaha sesuai dengan bakat, minat dan hobinya untuk mendapatkan penghasilan, sehingga remaja dan mahasiswa bisa hidup dengan bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya.

Tujuan Keterampilan Kejuruan (vocational skills) adalah agar remaja dan mahasiswa mampu mengembangkan potensi dirinya, bakat dan hobinya sehingga dapat mendatangkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

C. Keterampilan Menghadapi Kesulitan (Adversity Skills): Mengubah Hambatan Menjadi Peluang . Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak akan pernah lepas dari hambatan, masalah, dan tantangan. Kita melihat ada orang-orang yang bisa mengatasi dan meninggalkan kesulitan masa lalunya ada juga yang menyerah dan menyalahkan masa lalunya.

  1. Tipe Keterampilan Menghadapi Kesulitan
    Kemampuan orang dalam menghadapi hambatan, masalah, dan tantangan dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
    a) Tipe cepat menyerah (Quitters)
    Tipe cepat menyerah adalah orang yang apabila menghadapi kesulitan langkah pertama yang diambil adalah menghindari, memilih untuk keluar, mundur, dan berusaha berhenti terkait dengan kesulitan dan tantangan itu. Mereka ini disebut Quiters atau orang yang cepat menyerah dan berupaya secepatnya berhenti terkait dengan tantangan dan tanpa penyelesaian. Hal ini secara tidak langsung menutup segala peluang dan kesempatan dalam kehidupan. Quitters tidak mempunyai kemampuan menghadapi kesulitan dan tantangan hidup.
    b) Tipe Cepat Istirahat (Campers)
    Tipe Cepat Istirahat adalah tipe orang yang apabila menghadapi kesulitan dan tantangan hidup mencoba mengatasinya, namun dengan kesulitan yang semakin besar cepat mengambil tindakan untuk berhenti dari usahanya. Tipe ini, sudah mencoba untuk maju menghadapi kesulitan, namun tidak seberapa jauh mereka berkata, “sejauh ini sajalah kemampuan saya. Karena berbagai alasan, mereka berhenti berjuang dan mencari kondisi yang aman terhindar dari kesulitan, hambatan dan tantangan hidup lebih lanjut.
    c) Tipe Terus Mendaki (Climbers)
    Tipe Terus Mendaki adalah sebutan untuk orang yang dalam pendakiannya menghadapi tantangan hidup tidak pernah menyerah. Pendakian terus dilakukan dengan semangat yang tinggi dan strategi yang cerdas. Mereka memilih untuk terus bertahan dan berjuang menghadapi kesulitan dalam kehidupannya. Climbers adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan tidak pernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat fisik dan mental, atau hambatan lainnya menghalangi upaya pencapaian tujuan.
  2. Dimensi Keterampilan Menghadapi Kesulitan
    Keterampilan menghadapi kesulitan terdiri dari 4 dimensi yang masing-masing merupakan bagian dari sikap seseorang dalam menghadapi kesulitan. Keempat dimensi tersebut adalah sebagai berikut:
    a) C = Control (kendali)
    Dimensi ini menggambarkan seberapa banyak kendali yang dirasakan seseorang terhadap suatu peristiwa yang menimbulkan kesulitan dan tantangan hidup. Mereka yang meyakini bahwa dirinya memiliki kendali yang rendah cenderung berpikir :
    · Kesulitan ini di luar jangkauan saya!
    · Tidak ada yang bisa saya lakukan sama sekali menghadapi kesulitan ini
    · Saya tidak mungkin mengatasi kesulitan ini
    Sementara mereka yang meyakini bahwa dirinya memiliki kendali tinggi cenderung berpikir :
    · Wow! Ini sulit! Tapi saya pernah menghadapi yang lebih sulit lagi
    · Selalu ada jalan mengatasi kesulitan ini
    · Pasti ada cara yang bisa saya lakukan untuk mengatasi kesulitan ini
    · Saya harus mencari jalan lain…..
    b) O2 = Origin dan Ownership (sebab masalah dan Pengakuan)
    O2 mempertanyakan dua hal yaitu: Siapa atau apa yang menjadi sebab terjadinya kesulitan? dan sampai sejauh mana saya mengakui akibat-akibat kesulitan itu?Orang yang keterampilan menghadapi kesulitannya rendah cenderung menempatkan rasa bersalah pada peristiwa yang terjadi atau melihat dirinya sendiri sebagai satu-satunya penyebab kesulitan tersebut.
    Orang yang keterampilan menghadapi kesulitannya rendah cenderung berpikir :
    · Ini semua kesalahan saya
    · Saya memang bodoh sekali
    · Saya sudah mengacaukan semuanya !
    · Saya memang orang yang gagal !
    Orang yang keterampilan menghadapi kesulitannya baik cenderung berpikir :
    · Ada sejumlah faktor yang berperan
    · Waktunya tidak tepat
    · Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, saya tahu ada cara untuk menyelesaikan pekerjaan saya dengan lebih baik, dan saya akan menerapkannya bila lain waktu saya berada dalam situasi seperti ini lagi.
    c) R = Reach (jangkauan)
    Dimensi ini mempertanyakan sejauh manakah kesulitan akan menjangkau bagian-bagian lain dari kehidupan seseorang? Membatasi jangkauan kesulitan memungkinkan seseorang untuk berpikir jernih dan mengambil tindakan. Membiarkan jangkauan kesulitan memasuki satu atau lebih wilayah kehidupan, akan menghabiskan kekuatan sehingga tidak mampu menghadapi kesulitan.
    d) E = Endurance (Daya Tahan)
    Dimensi ini mempertanyakan dua hal yang berkaitan : Seberapa lamakah kesulitan akan berlangsung dan seberapa lamakah penyebab kesulitan itu akan berlangsung.
    Orang yang memiliki respon daya tahan rendah cenderung berpikir :
    · Ini selalu terjadi
    · Segala sesuatunya tidak akan pernah membaik
    · Tidak ada orang yang mau menikahi saya
    · Saya memang pemalas

Semua pernyataan tersebut berbau permanen. Kata-kata itu membuat seseorang merasa tidak berdaya untuk melakukan perubahan bahkan mungkin akan cenderung kurang bertindak melawan kesulitan yang dianggap sebagai sesuatu yang permanen. Semakin rendah keterampilan menghadapi kesulitan dan tantangan seseorang, maka semakin mudah menyerah pada nasib.

  1. Memperbaiki keterampilan menghadapi kesulitan dan tantangan
    Keterampilan menghadapi kesulitan dan tantangan bukanlah hal yang permanen atau menetap, dimensi-dimensi yang mempengaruhi sikap seseorang dalam menghadapi masalah dapat diperbaiki dan ditingkatkan melalui Keterampilan LEAD dan Stoppers.
    a. Keterampilan LEAD
    1) L = Listen. Dengarkanlah respon terhadap kesulitan.
    Mendengarkan respon terhadap kesulitan merupakan langkah penting dalam mengubah keterampilan seseorang.Adapun langkah-langkahnya, yaitu:
    a) Mengembangkan pancaindra terhadap kesulitan
    Keterampilan yang pertama yang perlu dimiliki adalah keterampilan untuk segera merasakan kapan kesulitan itu akan menerpa. Seseorang dapat mengetahui adanya kesulitan jauh sebelum kesulitan itu menjadi bencana. Sekali seseorang memprogram otaknya, dengan membuatnya selalu waspada, maka setiap menghadapi kesulitan akan dengan cepat meresponnya.
    b) Bunyikan alarm
    Teknik lain yang dapat digunakan untuk mendeteksi kesulitan adalah dengan membunyikan alarm dalam diri kita, semakin keras, semakin besar, dan semakin intens bunyi akan semakin kuat bekas yang ditimbulkan di otak. Sehingga kita akan bertindak untuk mengatasi masalah tersebut.
    c) Kenali CO2RE
    Setelah secara sadar bisa mendeteksi kesulitan, langkah berikutnya adalah segera mengukur bagaimana respon anda terhadap kesulitan. Evaluasilah diri anda, dari empat dimensi di atas, apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita.
    2) E = Explore. Jajakilah asal usul pengakuan anda atas akibatnya.
    Seseorang betul-betul belajar dari kesulitan dan mengasah strategi masa depannya. Misalnya dengan menerima rasa bersalah dengan bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu guna menangani dan memperbaiki atau menyelesaikan situasi yang ditimbulkan oleh kesulitan meskipun diri sendiri bukan penyebabnya. Mengakui akibatnya tidak berarti harus menerima rasa bersalah yang tidak perlu sebagai penyebab peristiwa itu.
    3) A = Analyze. Analisislah bukti-buktinya
    Menganalisis bukti mencakup proses bertanya yang sederhana, dimana seseorang memeriksa, mempertanyakan dan mengalihkan kesulitan menjadi konstruktif.
    4) D = Do. Lakukan sesuatu.
    Keterampilan ini berkaitan dengan tindakan yang bisa dilakukan untuk mengendalikan kesulitan, serta membatasi waktu berlangsungnya kesulitan. Masalah yang sering timbul dalam menyelesaikan kesulitan adalah orang yang tertimpa kesulitan tidak siap untuk bertindak. Untuk itu perlu dilatih kemampuan untuk berani mengambil tindakan agar kesulitan segera selesai, tidak melebar kemana-mana dan tidak berlangsung lama.

b. Keterampilan STOPPERS
Keterampilan STOPPERS dapat dilatih melalui dua keterampilan yaitu:Perintang: dirancang untuk membantu seseorang menginterupsi dengan cepat respon destruktif dan mempunyai kemampuan untuk mengubah keadaan emosional maupun fisiknya. Perintang ini dapat dilakukan melalui 5 cara yaitu :
1) Gebrakan telapak tangan ke permukaan benda yang keras sambil berteriak “STOP!”
Ketika dalam kondisi panik, dan tidak bisa berpikir, pukulkanlah tangan ke benda dihadapan seperti meja, dinding, dashboard mobil sambil berteriak STOP!!. Dengan demikian kepanikan terhenti dan setelah kembali ke kesadaran bisa memikirkan langkah-langkah apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan dan menghentikan kesulitan.
2) Pusatkan perhatian pada benda yang tidak ada hubungannya
Ketika pikiran berkecamuk coba ambil atau perhatikan suatu barang yang tidak ada hubungannya. Misalnya peganglah pensil, otak-atik pensil tersebut, warnanya apa, bentuknya bagaimana. Sesaat perhatian akan fokus terhadap pensil tersebut. Ketika kembali kepada kesadaran pikiran sudah tidak terlalu pusing dengan kesulitan, sehingga lebih tenang untuk memikirkan langkah apa yang akan dilakukan dalam menyelesaikan kesulitan.
3) Masukkan sebuah karet gelang di pergelangan tangan dan jepretkan karet itu ke pergelangan tangan
Simpanlah karet gelang di pergelangan tangan. Ketika mencoba untuk fokus terhadap permasalahan, jepretkanlah karet tersebut ke pergelangan tangan. Sehingga sesaat akan membuat terkejut dan memutuskan pikiran-pikiran lain yang mengganggu. Lalu akan terfokus terhadap kesulitan yang dihadapi dan memikirkan langkah-langkah yang diperlukan dalam penyelesaiannya. Kebiasaan menjepretkan karet ini biasanya dilakukan oleh atlet basket. Ketika akan memasukan bola mereka menjepretkan karet di pergelangan tanggannya sehingga fokus terhadap lemparan bola tidak terganggu oleh pikiran-pikiran lain.
4) Sibukkan diri dengan kegiatan yang tidak ada kaitannya
Ketika sedang ada kesulitan, orang cenderung akan diam dan melamun. Semakin memikirkan kesulitan, semakin merasa ruwet dengan permasalahannya. Agar tidak berkutat dengan masalah yang semakin pelik, maka ikutlah dalam suatu aktifitas yang tidak ada kaitannya dengan kesulitan yang dihadapi. Setelah selesai melakukan aktifitas yang tidak ada kaitannya ini, emosi akan mereda, sehingga cenderung lebih tenang dan mampu berpikir lebih jernih.
5) Ubahlah kondisi dengan berolah raga
Olah raga dapat dijadikan sebagai sarana untuk melepaskan beban pikiran. Misalnya ketika bermain tenis, saat memukul bola seseorang bisa berteriak seolah-olah melepaskan segala beban yang ada di pikiran.

Pembingkai Orang : membantu menghentikan kebiasaan yang menganggap bahwa semua kesulitan sebagai bencana, dan memberi tahu bahwa kesulitan sifatnya sementara. Pembingkai ini dapat dilakukan melalui 3 cara yaitu :
1) Pusatkan perhatian pada tujuan “mengapa saya melakukan ini”
Saat kita menemukan kesulitan dalam pekerjaan, maka kita harus mengingat apa yang memotivasi mengambil pekerjaan tersebut, maka kesulitan tersebut akan lebih ringan rasanya.
2) Mengecilkan diri
Ketika menghadapi masalah, pergilah ke tempat yang banyak orang, duduklah di salah satu sudut dimana dapat memperhatikan lalu lalang orang. Sekian banyak orang tentunya dengan sekian banyak masalah yang mereka hadapi. Tentunya masalah yang kita hadapi, tidak seberapa besar dengan masalah orang lain.
3) Membantu orang lain
Membantu orang lain membuat seseorang bersyukur bahwa dirinya diberi kemudahan dan nikmat yang belum tentu dimiliki orang lain. Datanglah ke tempat-tempat seperti perumahan kumuh, panti asuhan, panti jompo, atau SLB. Memperhatikan mereka tentunya membuat seseorang sadar bahwa mereka memiliki kesulitan yang lebih dibanding dari dirinya. Sehingga dirinya lebih mempunyai daya dan upaya dalam menghadapi kesulitan, dan dapat dengan lapang dada menerima kesulitan.

Baca materi sebelumnya di bloggerkalteng.id

Tag:

Artikel Terkait: