Oleh

Yandi Novia

teori framing
Kunjungi Media Online PerspektifSpace.com | Kirim tulisan dan dibayar, klik disini.

Teori Framing merupakan konsep penting dalam studi komunikasi massa yang menjelaskan bagaimana realitas sosial dikonstruksi oleh media. Dalam perspektif ini, media tidak dipandang sebagai saluran netral yang hanya menyampaikan fakta, melainkan sebagai institusi yang aktif memilih, menyusun, dan menafsirkan peristiwa.

Proses framing terjadi melalui seleksi isu (selection of issues) dan penonjolan aspek tertentu (salience). Artinya, dari sekian banyak realitas yang ada, media hanya memilih sebagian untuk ditampilkan, kemudian memberikan penekanan agar aspek tersebut lebih menonjol dibandingkan yang lain. Dengan demikian, khalayak diarahkan untuk melihat realitas sesuai dengan perspektif yang dibangun media.

Lebih jauh, framing tidak hanya berkaitan dengan isi berita, tetapi juga mencakup cara penyajian, seperti pemilihan kata, struktur kalimat, penggunaan metafora, hingga visualisasi. Semua elemen ini bekerja secara simultan dalam membentuk makna.

Teori Framing Menurut Para Ahli

1. Teori Framing Menurut Gregory Bateson: Frame sebagai Kerangka Interpretasi Awal

Gregory Bateson memperkenalkan konsep frame sebagai cara individu memahami realitas melalui “bingkai” tertentu. Frame berfungsi sebagai batas interpretasi yang membantu seseorang membedakan makna dari suatu peristiwa.

Dalam konteks komunikasi, Bateson melihat bahwa setiap pesan selalu berada dalam suatu frame tertentu. Tanpa frame, pesan akan sulit dipahami karena tidak memiliki konteks. Oleh karena itu, frame menjadi dasar bagi proses pemaknaan dalam komunikasi.

2. Teori Framing menurut Erving Goffman: Frame sebagai Organisasi Pengalaman Sosial

Erving Goffman mengembangkan konsep framing dengan pendekatan sosiologis. Ia menyatakan bahwa frame adalah skema interpretatif yang digunakan individu untuk memahami dan mengorganisasi pengalaman sehari-hari.

Menurut Goffman, manusia secara aktif menggunakan frame untuk menafsirkan realitas sosial. Dalam media, hal ini berarti bahwa wartawan dan institusi media tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga menginterpretasikannya berdasarkan kerangka tertentu.

Frame dalam pandangan Goffman bersifat dinamis, artinya dapat berubah tergantung konteks sosial dan budaya. Oleh karena itu, satu peristiwa yang sama bisa memiliki makna berbeda jika dibingkai dengan cara yang berbeda.

3. Teori Framing menurut Robert Entman: Framing sebagai Proses Seleksi dan Penonjolan

Robert Entman memberikan definisi framing yang paling operasional dalam studi media. Ia menyatakan bahwa framing adalah proses memilih beberapa aspek dari realitas yang dipersepsikan, lalu membuatnya lebih menonjol dalam teks komunikasi.

Entman merumuskan empat fungsi utama framing:

  1. Pendefinisian Masalah (Problem Definition)
    Media menentukan apa yang dianggap sebagai masalah dan bagaimana masalah itu dipahami oleh publik.
  2. Diagnosa Penyebab (Causal Interpretation)
    Media mengidentifikasi siapa atau apa yang dianggap sebagai penyebab masalah.
  3. Penilaian Moral (Moral Evaluation)
    Media memberikan penilaian normatif terhadap peristiwa atau aktor yang terlibat.
  4. Rekomendasi Solusi (Treatment Recommendation)
    Media menawarkan solusi atau tindakan yang dianggap tepat untuk menyelesaikan masalah.

Keempat elemen ini menunjukkan bahwa framing bukan sekadar penyajian informasi, tetapi juga proses konstruksi makna yang sarat nilai dan ideologi. Contoh jurnal mahasiswa tentang Teori Framing menurut Robert Entman.

4. Teori Framing menurut Pan dan Kosicki: Struktur Framing dalam Teks Berita

Pan dan Kosicki mengembangkan pendekatan framing yang berfokus pada struktur teks berita. Mereka melihat framing sebagai sesuatu yang dapat diidentifikasi melalui organisasi teks.

Mereka membagi framing ke dalam empat struktur:

a. Struktur Sintaksis

Berkaitan dengan bagaimana fakta disusun dalam berita, seperti headline, lead, dan kutipan. Headline sering kali menjadi penentu utama framing karena merupakan bagian pertama yang dibaca audiens.

b. Struktur Skrip

Mengacu pada kelengkapan unsur berita (5W+1H). Namun, framing dapat terlihat dari bagaimana unsur tersebut diprioritaskan atau dihilangkan.

c. Struktur Tematik

Menjelaskan bagaimana ide disusun dalam paragraf. Koherensi antar kalimat dan hubungan antar ide menunjukkan arah framing yang dibangun.

d. Struktur Retoris

Meliputi penggunaan bahasa, metafora, istilah khusus, dan elemen visual. Struktur ini sangat kuat dalam memengaruhi emosi dan persepsi khalayak.

Pendekatan ini memungkinkan analisis framing dilakukan secara sistematis dan detail terhadap teks media.

5. Teori Framing menurut Gamson dan Modigliani: Framing sebagai Media Package

Gamson dan Modigliani melihat framing sebagai paket makna (media package) yang digunakan media untuk menyampaikan isu.

Mereka membagi framing ke dalam dua perangkat utama:

a. Framing Devices

Perangkat simbolik yang digunakan untuk memperkuat pesan, seperti:

  • Metafora
  • Slogan
  • Contoh kasus (exemplar)
  • Visual (gambar, grafik)

b. Reasoning Devices

Perangkat yang berkaitan dengan logika dan argumen, seperti:

  • Analisis sebab-akibat (roots)
  • Klaim moral (appeals to principle)

Model ini menunjukkan bahwa framing tidak hanya terjadi pada level teks, tetapi juga melalui simbol dan narasi yang membentuk cara berpikir khalayak.

Framing dalam Produksi Berita

Dalam praktik jurnalistik, framing merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses produksi berita. Wartawan harus memilih fakta, menentukan narasumber, serta menyusun narasi dalam keterbatasan waktu dan ruang.

Selain itu, framing juga dipengaruhi oleh:

1. Ideologi media

Ideologi media merujuk pada sistem nilai, keyakinan, dan perspektif dasar yang dianut oleh suatu institusi media. Ideologi ini bisa bersifat eksplisit maupun implisit, dan biasanya tercermin dalam kebijakan redaksi serta arah pemberitaan.

Media tidak berdiri di ruang hampa; ia selalu berada dalam konteks sosial, budaya, dan politik tertentu. Oleh karena itu, ideologi media akan memengaruhi bagaimana suatu peristiwa dipilih dan ditafsirkan. Misalnya, media dengan kecenderungan nasionalis mungkin akan membingkai isu internasional dari sudut kepentingan negara, sementara media yang berorientasi pada hak asasi manusia akan lebih menyoroti aspek keadilan dan kemanusiaan.

Ideologi ini bekerja secara halus melalui pilihan kata, sudut pandang, hingga narasi yang dibangun. Dalam banyak kasus, khalayak tidak menyadari bahwa apa yang mereka baca telah melalui proses ideologisasi tertentu.

2. Kepentingan politik dan ekonomi

Media sebagai institusi tidak terlepas dari kepentingan politik dan ekonomi. Kepemilikan media, afiliasi politik, serta sumber pendanaan sangat berpengaruh terhadap arah framing suatu berita.

Dalam konteks politik, media dapat digunakan sebagai alat untuk membangun citra aktor politik tertentu atau sebaliknya menjatuhkan pihak lain. Framing yang digunakan bisa berupa penonjolan keberhasilan, pengaburan kegagalan, atau pemilihan isu yang menguntungkan pihak tertentu.

Sementara itu, dari sisi ekonomi, media bergantung pada iklan dan pasar. Hal ini membuat media cenderung memilih isu yang menarik perhatian publik (attention-driven) dan menguntungkan secara komersial. Akibatnya, isu-isu yang memiliki nilai jual tinggi sering lebih ditonjolkan dibandingkan isu yang penting namun kurang menarik secara pasar.

Dengan demikian, framing sering kali menjadi arena tarik-menarik antara kepentingan ideal jurnalistik dan kepentingan praktis media sebagai industri.

3. Rutinitas kerja jurnalistik

Rutinitas kerja jurnalistik mencakup prosedur, kebiasaan, dan standar operasional dalam produksi berita. Wartawan bekerja dalam tekanan waktu (deadline), keterbatasan sumber daya, serta tuntutan untuk menghasilkan berita secara cepat dan akurat.

Dalam kondisi ini, wartawan cenderung mengandalkan sumber yang mudah diakses dan dianggap kredibel, seperti pejabat pemerintah atau institusi resmi. Akibatnya, framing berita sering kali mengikuti perspektif sumber dominan tersebut.

Selain itu, rutinitas seperti penggunaan format baku berita (headline, lead, body), standar penulisan, dan kebijakan redaksi juga memengaruhi bagaimana informasi disusun. Proses ini secara tidak langsung membatasi kemungkinan sudut pandang yang muncul dalam pemberitaan.

Dengan kata lain, framing tidak selalu merupakan hasil dari niat ideologis, tetapi juga konsekuensi dari praktik kerja jurnalistik sehari-hari.

4. Nilai berita (news values)

Nilai berita adalah kriteria yang digunakan media untuk menentukan apakah suatu peristiwa layak diberitakan atau tidak. Nilai-nilai ini meliputi aspek seperti:

  • Kedekatan (proximity)
  • Ketokohan (prominence)
  • Konflik (conflict)
  • Dampak (impact)
  • Keunikan (novelty)

Nilai berita ini sangat berpengaruh dalam proses framing karena menentukan aspek mana yang akan ditonjolkan. Misalnya, jika konflik dianggap memiliki nilai berita tinggi, maka media cenderung membingkai peristiwa dengan menonjolkan pertentangan antar pihak.

Akibatnya, realitas yang kompleks sering disederhanakan menjadi narasi tertentu yang sesuai dengan nilai berita. Hal ini dapat memperkuat stereotip, dramatisasi, atau bahkan bias dalam pemberitaan.

Dengan demikian, nilai berita bukan hanya menentukan apa yang diberitakan, tetapi juga bagaimana peristiwa tersebut dibingkai dan dipahami oleh khalayak.

Akibatnya, berita yang dihasilkan bukanlah representasi realitas yang objektif, melainkan hasil konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor tersebut.

Dampak Framing terhadap Opini Publik

Framing memiliki dampak signifikan dalam membentuk opini publik. Dengan memilih sudut pandang tertentu, media dapat:

  • Mengarahkan perhatian publik pada isu tertentu
  • Membentuk persepsi tentang aktor atau peristiwa
  • Mempengaruhi sikap dan tindakan masyarakat

Sebagai contoh, suatu peristiwa dapat dibingkai sebagai “krisis”, “ancaman”, atau “peluang”. Perbedaan framing ini akan menghasilkan respon publik yang berbeda pula.

Kesimpulan

Teori framing menegaskan bahwa media berperan aktif dalam membentuk realitas sosial. Melalui proses seleksi, penonjolan, dan interpretasi, media menciptakan makna yang memengaruhi cara masyarakat memahami dunia.

Berbagai model dari para ahli seperti Bateson, Goffman, Entman, Pan & Kosicki, serta Gamson & Modigliani memberikan kerangka analisis yang komprehensif untuk mengkaji bagaimana framing bekerja dalam teks media. Dengan memahami teori ini, pembaca dapat menjadi lebih kritis dalam menafsirkan informasi yang disajikan media.

Referensi:

Sobur, Alex. 2012. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Yuk Bagikan:

Tinggalkan komentar