Liputan

Kuliah Bahasa Arab, Kenapa Harus di STIT Darul Hijrah?

Sudah dimaklumi secara umum bahwa bahasa Arab adalah bahasa agama Islam. Hal itu tentu saja karena Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Allah adalah seorang Arab dan bertutur dengan bahasa Arab. Dalam hal ini, kedudukan bahasa Arab dalam keberagamaan Islam serupa dengan bahasa Ibrani dan Latin di dunia Yahudi dan Kristen, serta bahasa Sansekerta bagi agama Hindu dan Buddha.

Namun seiring dengan perkembangan keilmuan Islam, bahasa Arab justru mendapatkan kedudukannya yang tidak hanya bersifat kultural tetapi juga sekaligus formal. Pertama-tama, pelaksanaan ritual-ritual ibadah dalam Islam harus menggunakan bahasa Arab, sekalipun seorang muslim di kepulauan Fiji, misalnya, tidak mengerti bahasa Arab.

Selain itu, sejak masa yang disebut oleh Fazlur Rahman “kelahiran ortodoksi”, atau yang disebut Abid al-Jabiri “era kodifikasi”, pada abad ke-2 Hijriyah, teks-teks keagamaan dan teks-teks keilmuan Islam ditulis dengan menggunakan bahasa yang digunakan oleh al-Quran dan Hadis sebagai sumber ajaran agama itu. Kendati kemudian, ketika syiar Islam sampai ke bumi Nusantara, sebagian karya para ulama Islam ditulis dengan bahasa Melayu, namun aksara yang digunakan tetaplah aksara Arab.

Dengan demikian, derajat bahasa Arab yang begitu tinggi membuat penguasaan terhadapnya adalah hal mutlak bagi seseorang untuk menjadi muslim sejati. Ibadahnya akan lebih bermakna jika ia memahami dan meresapi apa yang dilafalkannya saat bersyahadat, salat dan berhaji. Pengetahuannya tentang Islam akan lebih mendalam dan menyeluruh ketika ia menyelami khazanah keilmuan Islam.

Pentingnya mempelajari dan menguasai bahasa Arab semakin urgen di tengah fenomena dan suasana keberislaman di masa kiwari. Kurang lebih 20 tahun terakhir kita dapat menyaksikan tumbuhnya kalangan kelas menengah muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Yang dimaksud dengan kelas menengah muslim adalah masyarakat yang memiliki daya beli atau tingkat konsumerisme yang cukup tinggi di satu sisi dan masyarakat yang berpegang pada ajaran dan nilai-nilai agama Islam di sisi yang lain. Ajaran dan nilai Islam mempengaruhi pola pikir dan perilaku kalangan masyarakat ini, dan tentunya juga mempengaruhi apa yang mereka beli atau konsumsi.

Bagi produsen barang dan jasa yang ingin mereguk keuntungan sebanyak-banyaknya, keberadaan kelas menengah muslim adalah pasar yang menggiurkan, sehingga mereka berusaha dan berlomba untuk menggaet hati konsumen dari kalangan tersebut dengan menciptakan produk-produk yang bernuansa atau berlabel islami.

Walhasil, terciptalah apa yang disebut dengan “Islam Populer”. Islam Populer merupakan bentuk komodifikasi nilai-nilai modernis dalam budaya Islam yang melahirkan komersialisasi simbol-simbol relijius dalam komunitas muslim (Wasisto Raharjo Jati, 2015). Hal itu terlihat, misalnya, dari bagaimana Islam muncul dalam bentuk perda syari’ah, hotel syari’ah, jilbab syar’i dan bentuk-bentuk simbolik lainnya – termasuk pola keberagamaan baru-baru ini yang dikenal dengan istilah “hijrah”.

Menurut Ariel Heryanto dalam Identitas dan Kenikmatan (2015), pola keberagamaan baru ini berada di “area abu-abu” antara liberalisme dan fundamentalisme Islam. Oleh karena itu, varian keberagamaan populis tidak dapat dikelompokkan kepada salah satu antara kedua kutub ekstrim tersebut. Kita tidak dapat mengatakan, misalnya, perempuan-perempuan muda berjilbab yang menyukai K-Pop, apakah mereka liberal ataukah fundamentalis.

Ariel menambahkan bahwa kehadiran media-media baru (media sosial dan internet umumnya) tidak dapat diabaikan dalam melihat fenomena kelas menengah muslim. Melalui media baru tersebut masyarakat kelas menengah muslim, khususnya kaum mudanya, mengakses pengetahuan keislaman, serta mengekspresikan keislamannya di sana.

Seperti dikeluhkan banyak pihak, sifat keterbukaan dan kebebasan tiada batas yang dimiliki media baru itu membuat otoritas keagamaan jadi kabur. Semua orang kini mengakses berbagai informasi keagamaan tanpa terlebih dahulu memeriksa keabsahan sumbernya dan semua orang kini bebas berbicara mengenai agama tanpa peduli sejauh mana ia mengetahui dasar-dasar keagamaan.

Dalam kondisi demikian, generasi muda muslim dihadapkan pada setidaknya dua hal: (1) tereduksinya pemahaman Islam kepada wilayah yang bersifat simbolik saja sebagai dampak populisme Islam dan (2) kaburnya otoritas keagamaan akibat keterbukaan dan kebebasan informasi berkat kehadiran media-media baru.

Menghadapi situasi tersebut, diperlukan generasi muda muslim yang saleh secara spiritual, serta memiliki kedalaman pengetahuan Islam dan keterampilan yang mumpuni dalam menyiarkan dakwah Islam. Tentu saja, penguasaan bahasa Arab sebagai bahasa agama Islam menjadi prasyarat utama demi melahirkan generasi muslim yang demikian itu. Lebih-lebih, satu hal yang menjadi sorotan terhadap populisme Islam adalah kurangnya penguasaan bahasa Arab oleh mereka yang terlibat di dalamnya.

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Darul Hijrah Martapura, Kalimantan Selatan, dengan Program Studi unggulannya, yaitu Pendidikan Bahasa Arab (PBA), dapat menjadi pilihan yang baik bagi generasi muda untuk mempelajari bahasa Arab secara lebih intens dan mendalam. Pembelajaran bahasa Arab kiranya tidak cukup hanya diberikan di madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah dasar dan menengah.

Selain perlunya belajar bahasa Arab hingga tingkat Perguruan Tinggi – agar pelajar tidak hanya mempelajari dasar-dasar membaca, berbicara dan menulis Arab, melainkan juga seluk-beluk struktur gramatika dan nilai-nilai sastrawi bahasa Arab – STIT Darul Hijrah memiliki kelebihan tersendiri dalam memberi layanan pendidikan tinggi, yakni lingkungan (bi`ah) dan tradisi.

Perguruan Tinggi Islam yang beralamat di Desa Cindai Alus, Martapura, Kalsel, ini berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Pondok Darul Hijrah yang juga menyelenggarakan Pondok Pesantren Darul Hijrah. Pesantren ini telah dikenal masyarakat luas berfokus pada pembelajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris. Kedua bahasa tersebut adalah bahasa pengantar resmi dalam pembelajaran dan pergaulan sehari-hari seluruh warga pondok Darul Hijrah, dan keduanya disebut “mahkota pondok” (taj al-ma’had).

STIT Darul Hijrah berada di tengah lingkungan dan tradisi ini, sehingga pembelajaran bahasa Arab bagi mahasiswa-mahasiswinya akan berjalan lebih intensif. Lingkungan tersebut, yang menjadi faktor terpenting dalam pembelajaran bahasa asing, serta tradisi berbahasa, telah lama membentuk iklim pembelajaran bahasa Arab di Darul Hijrah, sehingga pengalaman mendidik kemampuan berbahasa Arab menjadi nilai tambah lainnya bagi STIT Darul Hijrah.

Selain itu, karena juga mengajarkan ilmu keguruan dan kependidikan, STIT Darul Hijrah tak hanya berupaya mendidik generasi muda muslim agar menguasai bahasa Arab, melainkan juga mencetak guru-guru bahasa Arab. Seperti halnya Hadis Nabi Saw tentang kemuliaan orang yang belajar dan mengajar al-Qur`an, bukankah seseorang akan mendapat derajat tinggi jika ia belajar sekaligus mengajarkan bahasa Arab?

Bagi anda yang tertarik kuliah bahasa Arab atau tertarik jika anggota keluarganya kuliah bahasa Arab, STIT Darul Hijrah jelas menjadi pilihan yang takkan meragukan. Anda dapat mendaftarkan diri dan keluarga anda secara daring (online) dengan mengisi formulir yang tersedia di link: https://stitdarulhijrahmtp.ac.id/2020/04/07/formulir-pendaftaran-mahasiswa-baru/ atau menghubungi nomor WhatsApp 081255054444 untuk mendapatkan formulir pendaftaran dan info lebih lanjut.

Hijrah, ke STIT Darul Hijrah Aja!

Tag:

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar: